Artikel Aneka Artikel

Generasi Pembelajar, Generasi Unggul
Oleh Hilman Hilmawan, SEKUM PD KAMMI TasikmalayaSelasa, 14 Januari 2014 09:48 WIB | Dibaca 1.642 kali
Generasi Pembelajar, Generasi Unggul

 

Hari ini, di abad modern ini kita banyak ‘dikejutkan’ dengan karya-karya spektakuler hasil kreativitas manusia. Teknologi komunikasi modern seperti Hand Phone dengan segala fasilitasnya merupakan salah satu hasil dari karya-karya manusia abad ini. Modelnya pun bervariasi, mulai dari model ‘A’ sampai model ‘Z’. Implikasinya produk ini pun seolah-olah ‘berserakan’ dan menyebar dengan masif ke seluruh penjuru dunia. Alat-alat transportasi seperti mobil dan motor pun kini sudah banyak bertebaran di setiap negara. Tiap pabrikan mobil ataupun motor masing–masing bersaing untuk meluncurkan produk–produk terbaru dan inovatif yang bertujuan untuk menjaga eksistensinya. Buah dari hasil inovasinya, saat ini muncul kendaraan yang hemat energi salah satunya dengan memanfaatkan energi matahari. Karya menakjubkan ini tentunya sangat bermanfaat bagi manusia sehingga memudahkan manusia untuk melakukan segala aktivitas kehidupan sehari-hari.

Kita tentunya tahu bahwa hasil karya tersebut bukan diciptakan oleh orang-orang sembarangan. Perlu sebuah upaya keras dan semangat belajar yang tinggi dari orang-orang tersebut untuk menghasilkan suatu hasil karya yang bisa dinikmati oleh masyarakat dunia. Selain itu, campur tangan pemerintah (negara) pun mempunyai andil yang besar dalam menghasilkan karya-karya unggulan. Salah satu negara yang saat ini konsisten terhadap pengembangan teknologi modern adalah negara Jepang. Negara ini begitu perhatiannya terhadap teknologi-teknologi modern. Karya-karyanya pun sudah hampir menyebar ke seluruh penjuru dunia. Berkat konsistensinya, sekarang negara ini sukses menjadi salah satu negara maju di dunia. 

Berbicara tentang negara Jepang, ada pelajaran yang dapat diambil oleh kita. Di balik segala kesuksesannya saat ini, Jepang ternyata menyimpan segudang sejarah yang unik tentang perjuangan dan semangat belajarnya yang luar biasa. Dahulu, negara Jepang mengalami penghinaan yang hebat dari musuh-musuhnya (negara Barat) pada saat Perang Dunia ke-2 bahkan jauh sebelumnya. Di balik penghinaan itu, ternyata Jepang menyimpan ambisi yang besar untuk bisa melampaui negara-negara barat pada saat itu. Keadaan Jepang sesaat setelah Perang Dunia ke-2 mengalami kemunduran. Jepang menjadi negara yang terisolasi dari dunia luar. Jepang sangat ketinggalan dalam bidang IPTEK dari negara barat dan mereka harus segera belajar. Kondisi ini tak pelak memunculkan kesadaran para samurai muda dari suku Chosu dan Satsuma. Mereka tahu bahwa mereka harus segera belajar dari barat. Para pemimpin istana sadar bahwa ini saatnya perang kecerdasan bukan perang fisik menggunakan samurai. Maka langkah yang diambil adalah mengadakan “Revolusi” dalam setiap aspek kehidupan pada masa kaisar Meiji. Dalam sejarahnya peristiwa ini dikenal dengan nama Restorasi Meiji. Dari peristiwa Restorasi Meiji inilah awal mula Jepang menjadi bangsa pembelajar. Pada era ini, Jepang memulai langkahnya dengan mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku yang terbaik dari Eropa dan Amerika. Jepang juga membangun pusat-pusat pendidikan, menyekolahkan para pemuda-pemuda berbakatnya ke luar negeri, serta mendatangkan guru-guru asing untuk mengajar anak-anak bangsanya. Rakyat Jepang menjadi rakyat yang kutu buku, senang mengkaji dan menganalisis buku-buku berkualitas dari Eropa dan Amerika. Tidak hanya itu, mereka juga membeli karya-karya terbaik keluaran Eropa untuk kemudian dibongkarnya, dianalisnya, bahkan sampai menciptakan karya yang baru dan lebih baik dengan tangan mereka sendiri.

Lain cerita dengan Jepang, beberapa abad silam juga pernah muncul peradaban spektakuler di bumi ini. Peradaban ini muncul jauh sebelum Jepang bahkan juga jauh sebelum peradaban barat yang berjaya sekarang ini. Peradaban ini mampu memimpin dunia selama kurang lebih 800 tahun. Bahkan menurut sejarah, sinar peradaban ini pun jauh lebih cemerlang menerangi dunia dibandingkan dengan dua peradaban tersebut (Jepang dan Barat). Peradaban yang berlandaskan kepada keimanan dan ketakwaan terhadap Sang Pemilik samudera ilmu yakni Alloh SWT. Peradaban ini senantiasa berorientasi untuk mengamalkan Al-Qur’an dan Hadits Rasululloh SAW. Peradaban yang melahirkan generasi unggul, kuat, disiplin, memiliki semangat belajar tinggi, dan cinta akan ilmu pengetahuan. Peradaban yang dimaksud adalah peradaban Islam.

Peradaban ini bermula sekitar abad ke-6, ketika cahaya Islam muncul ke permukaaan untuk menerangi bumi dari pekatnya awan kegelapan jahiliyah. Islam muncul dibawa oleh seorang manusia yang jenius yakni Muhammad SAW. Beliau tidak hanya sukses membawa risalah Alloh Sang Pemilik alam semesta, tetapi juga sukses membuat sebuah peradaban baru yang lebih beradab yakni peradaban Islam. Sepanjang perjalanan sejarahnya, dari masa ke masa Islam terus menyebar mengepakkan sayapnya ke seluruh penjuru dunia. Sampai pada beberapa abad kemudian tepatnya sekitar abad ke–8 pada masa kekhalifahan, sinar peradaban islam ini makin terang benderang. Banyak tokoh-tokoh ilmuwan, negarawan, filsuf, satrawan, yang lahir dari rahim peradaban Islam pada saat itu. Mereka mampu menghasilkan karya-karya besar sebagai buah dari kerja-kerja besar yang telah mereka lakukan. Karya-karya mereka pun begitu fenomenal sehingga menjadi rujukan ilmuwan-ilmuwan modern baik ilmuwan timur maupun ilmuwan barat.

Sebut saja Ibnu Sina (Aviciena) yang lahir pada tahun 370 Hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Beliau adalah salah seorang ilmuwan dalam bidang filsafat dan kedokteran. Sejak masih kanak-kanak, beliau sudah terbiasa dengan pembahasan ilmiah dari ayah dan gurunya. Pada usia muda belia, beliau sudah mahir dalam dunia kedokteran. Berkat kecerdasan dan kemahiran dalam bidang kedokterannya itu, beliau menjadi terkenal.  Sehingga pada suatu waktu Raja Bukhara yang bernama Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 Hijriyah, memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya ketika dia jatuh sakit. Dari kepercayaan sang raja itu, Ibnu Sina mendapatkan kehormatan untuk bisa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Kesempatan itu pun dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Ibnu Sina, buku-buku yang berada di sana hampir semuanya ia pelajari. Maka tak heran kalau di usianya yang baru 18 tahun, beliau sudah berhasil menyelesaikan hampir semua bidang ilmu. Beliau sudah menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, kedokteran dan matematika dengan berbagai cabangnya. Salah satu karyanya yang fenomenal dari Ibnu Sina adalah dalam bentuk buku yang berjudul ‘Al-Qanun’ (The Cannon). Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini juga mengupas kaidah-kaidah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Kitab Al-Qanun dijadikan rujukan yang paling otentik oleh kedokteran dunia selama hampir 700 tahun. Bahkan kitab ini juga pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Selain ibnu Sina, ada juga ilmuwan islam yang diakui kehebatannya oleh dunia internasional yakni Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Lahir di Khawarizmi, Uzbeikistan, pada 194 H/780 M pada masa Khalifah Abbasiyah. Beliau seorang ahli di bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi. Beliau berhasil menemukan konsep bilangan nol dan konsep aljabar sehingga beliau dijuluki sebagai “Bapak Aljabar.” Karya Aljabarnya yang paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan). Buku ini diterjemahkan oleh F. Rosen, seorang matematikawan Inggris di London pada tahun 1831. Buku ini kemudian diedit ke dalam bahasa Arab oleh Ali Mustafa Musyarrafa dan Muhammad Mursi Ahmad, ahli matematika Mesir, pada tahun 1939. Dalam buku itu diuraikan tentang pengertian-pengertian geometris. Tak hanya itu, beliau juga berhasil menyumbangkan konsep teorema segitiga sama kaki yang akurat yang terdiri dari perhitungan tinggi serta luas segitiga dan luas jajaran genjang. Dengan demikian, dalam beberapa hal al-Khawarizmi telah membuat aljabar menjadi ilmu eksak. Karya-karya al-Khawarizmi di bidang matematika sebenarnya banyak mengacu pada tulisan mengenai aljabar yang disusun oleh Diophantus (250 SM) dari Yunani. Namun, dalam meneliti buku-buku aljabar tersebut, al-Khawarizmi menemukan beberapa kesalahan dan permasalahan yang masih kabur. Kesalahan dan permasalahan itu diperbaiki, dijelaskan, dan dikembangkan oleh al-Khawarizmi dalam karya-karya aljabarnya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila ia dijuluki sebagai ”Bapak Aljabar.” Bahkan, menurut Gandz, seorang matematikawan Barat dalam bukunya yang berjudul The Source of al-Khawarizmi’s Algebra, al-Khawarizmi lebih berhak mendapat julukan “Bapak Aljabar” dibandingkan dengan Diophantus, karena dialah orang pertama yang mengajarkan aljabar dalam bentuk elementer serta menerapkannya dalam hal-hal yang berkaitan dengannya.

Tidak hanya Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi, ada juga tokoh-tokoh ilmuwan lain yang lahir dari rahim peradaban Islam seperti Ibnu Rusyd (1126-1198 M) sang ahli filsafat, Al-Farabi (259 H /870 M) sang ahli musik, Al-Battani (858 M) sang ahli Astronomi, Ibnu Haitam (354 H/965 M) sang bapak optik, Ibnu Khaldun (732 H/1332 M) sang bapak ilmu sosial dan ekonomi islam, serta masih banyak lagi. Peradaban islam juga mampu melahirkan banyak Universitas tertua di dunia, seperti Universitas Al-Karouine (245 H/859 M) di Maroko, Universitas Al-Azhar (969 M) di Mesir, Universitas Sankore (989 M) di Mali, dan Universitas Nizamiyya (1065 M) di Iran. Ilmu-ilmu yang berkembang pesat pada masa peradaban Islam ini, menjadi rujukan ilmuwan-ilmuwan Eropa dan Amerika. Fakta sejarah ini telah membuktikan bahwa generasi Islam ini merupakan generasi pembelajar yang dapat menghasilkan karya-karya besar. Melalui hasil-hasil karyanya, generasi Islam ini telah berhasil mencetak tinta emas dalam sejarah peradaban manusia dan menjadi generasi unggul di zamannya.

Jika ditelaah lebih jauh, salah satu rahasia dibalik kesuksesan dari sebuah peradaban adalah adanya generasi yang cinta akan ilmu, memiliki semangat belajar yang tinggi, dan disiplin. Jepang dengan segala kesuksesannya saat ini ternyata memiliki kunci kesuksesan yaitu semangat belajar tinggi dari warga negaranya. Islam pun demikian, dengan segala kesuksesannya pada masa silam, ternyata memilki kunci kesuksesan yang begitu fenomenal yakni adanya generasi yang memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, sehingga muncul generasi yang kuat keimanannya, cinta akan ilmu pengetahuan, memiliki semangat belajar yang tinggi, disiplin, melakukan kerja-kerja besar, menghasilkan karya-karya besar dan selalu berorientasi untuk memperoleh keridhaan Alloh SWT. Maka pantas kalau kemudian mereka menjadi generasi yang unggul, generasi yang memberikan manfaat dan andil yang besar terhadap kemajuan dunia. 

Setidaknya ada prasyarat yang harus dicapai untuk menjadi generasi pembelajar yang hebat untuk konteks realitas kehidupan kita saat ini, diantaranya :

1.      Memilki keyakinan yang kuat sebagai landasan dalam melakukan kerja-kerja besar, sehingga apapun yang dilakukan semata-mata untuk memberikan kontribusi bagi dunia. Hal ini penting mengingat bahwa kerja-kerja yang dilandaskan pada nilai-nilai transendental akan lebih bermakna dan menghasilkan sebuah karya yang besar dibandingkan dengan berlandaskan pada materi semata.

2.      Memiliki motivasi yang tinggi untuk senantiasa belajar, mengkaji ilmu, dan menjadi ahli di bidang yang dikuasai.

3.      Mengamalkan setiap ilmu yang diperoleh, sehingga keotentikan dan khazanah keilmuan tetap terjaga.

4.      Disiplin dalam manajemen waktu, disiplin dalam bekerja, sehingga efekitvitas waktu dan output kerja tetap terjaga. 

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari seberkas kisah tentang kejayaan Islam di masa lalu, dan kemajuan  zaman hari ini. Sehingga kita akan menjadi generasi yang cinta akan ilmu pengetahuan, generasi yang senantiasa menjadi pembelajar, generasi yang akan menggoreskan sebuah catatan kebanggan di lembar sejarah peradaban manusia. Wallohu’alam bishowab. 

 


(Penulis adalah Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Staf Pengajar SDIT ‘Ibadurrohman Tasikmalaya)

Agustus 2011


Print PDFPDF ArsipArsip RSSRSS


comments powered by Disqus